Selamat datang di bikinradio.com, cara mudah bikin radio siaran dan podcast.

Saat Homeless Media Menjadi Mitra Pemerintah. Ada Yang Salah?

BAKOM - HOMELESS MEDIA

Saat Homeless Media Menjadi Mitra Pemerintah. Ada Yang Salah?

Badan Komunikasi (Bakom) secara resmi menggandeng homeless media sebagai mitra. Mereka yang tergabung dalam New Media Network, akan menjadi salah kanal publikasi resmi dari pemerintah. Meski beberapa homeless media membantah ikut kesepakatan, tapi dah ramai mjd perbincangan publik.

Sebenarnya bukan sekadar konflik antara media mainstream versus homeless media. Juga bukan sekedar: kenapa pemerintah kerja sama dgn media yang tak punya karya jurnalistik?

Ini adalah benturan tiga kepentingan besar sekaligus: idealisme jurnalistik, realitas bisnis media yang makin berat, dan kebutuhan kekuasaan untuk menguasai opini publik di era digital.

Pemerintah merangkul kanal dengan audiens besar? Itu logis.
Di zaman algoritma, engagement memang mata uang baru.

Masalahnya muncul ketika akun-akun yang praktiknya sudah menyerupai media diberi ruang dan legitimasi yang sama, tetapi tidak dibebani tanggung jawab jurnalistik sebagaimana pers yang tunduk pada UU Pers, kode etik, verifikasi, hak jawab, hingga risiko hukum.

Di sisi lain, media mainstream juga tidak bisa sepenuhnya berdiri di menara moral paling tinggi.
Publik tahu, banyak media konvensional juga hidup dari relasi kuasa, iklan pemerintah, dan kompromi bisnis agar dapur tetap menyala.

Jadi persoalannya bukan soal siapa yang paling suci.
Karena faktanya, semua pemain di ekosistem informasi hari ini sedang bernegosiasi dengan kepentingan masing-masing.

Yang berbahaya adalah ketika ruang informasi berubah menjadi ekosistem propaganda.
Media dipelihara karena loyalitas dan engagement semata, bukan karena kualitas verifikasi dan independensinya.

Ketika algoritma lebih penting daripada akurasi, maka opini publik perlahan tidak lagi dibentuk oleh fakta, tapi oleh siapa yang paling dekat dengan kekuasaan dan paling paham memainkan emosi audiens.

Dan ironisnya, publik sering kali tidak sadar sedang dikondisikan.

Di titik itu, kita bukan lagi bicara tentang masa depan media.
Kita sedang bicara tentang masa depan demokrasi dan kualitas berpikir publik itu sendiri.

Gmn menurut kalian?
------------------------------------------

Oleh: Pracoyo Wiryoutomo
Consultant Public Relations & Social Media.

0 Komentar